Jumat, 16 November 2012

sifat tercela merusak bumi

Sifat Tercela Membuat Kerusakan Di Bumi

Salah satu di antara sasaran yang dituju oleh Islam ialah membangun masyarakat yang baik dam memberantas kerusakan di bumi. Oleh karena itu, Islam menganggap perbuatan merusak dalah perbuatan dosa besar. Bagi pelakunya akan mendapat siksaan dari Allah di dunia maupun di akhirat, dan tidak akan mendapat rahmat dari Allah. 
Al-Qur’an telah menceritakan kepada kita perihal kaum yang telah mendapat azab dari Allah lantaran gemar mengadakan kerusakan di muka bumi. 
Allah berfirman : “Lalu mereka berbuat banyak kerusakan dalam negeri itu, karena itu Tuhanmu menimpakan kepada mereka cemeti azab (azab yang pedih).” (QS. 89 : 12 – 13). 
Banyak sekali malapetaka yang menimpa manusia yang disebabkan merajalelanya kerusakan di antara mereka. Demikianlah apa yang telah diceritakan 
Al-Qur’an berikut ini. “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan merek, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”. (QS. 30 : 41). 
Kerusakan yang melanda umat manusia baik di darat maupun di laut adalah karena ulah tangan-tangan manusia itu sendiri. Mereka gemar melakukan kejahatan-kejahatan dan perbuatan-perbuatan yang berdosa. Oleh karena itu, Allah menurunkan siksaan terhadap mereka di dunia melalui tangan-tangan mereka sendiri. Hukuman tersebut dimaksudkan agar mereka bisa menyadarinya dan kembali ke jalan yang benar. 
Al-Qur’an menuturkan perihal hukuman yang menimpa negeri Madyan. Kerusakan telah melanda masyarakat, lalu Allah mengutus nabi Syu’aib kepada mereka untuk memberi petunjuk. Tetapi mereka tidak mau mempercayai perkataannya. Oleh karena itu, segera Allah mengirimkan siksaan-Nya kepada mereka. Rumah-rumah tempat tinggal mereka hancur, dan mereka semua mati, 
Allah berfirman menceritakan perihal mereka : “Dan (Kami telah mengutus) kepada penduduk Madyan, saudara mereka Syu’aib, maka ia berkata : “Hai kaumku, sembahlah olehmu Allah, harapkanlah (pahala) hari akhir, dan janganlah kamu berkeliaran di muka bumi berbuat kerusakan”. Maka mereka mendustakan Syu’aib, lalu mereka ditimpa gempa yang dahsyat, dan jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di tempat-tempat tinggal mereka”. (QS. 36 : 37). 
Dan jenis kerusakan yang paling fatal akibatnya, ialah apa yang dilakukan oleh para pemimpin dan para penguasa yang menjadikan kedudukannya sebagai sarana untuk mencapai tujuan memenuhi kebutuhan hidupnya dan mengumbar nafsunya. Al-Qur’an telah membuka kedok mereka, dan menjelaskan bagaimana cara mereka bisa meraih kedudukan dan kekuasaan. 
Allah telah berfirman : 
 “Dan di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan dipersaksikannya kepada Allah (atas kebenaran) isi hatinya, padahal ia adalah penentang yang paling keras. Dan apabila ia berpaling (dari mukamu) ia berjalan di muka bumi untuk mengadakan kerusakan kepadanya, dan merusak tanaman-tanaman dan binatang ternak, dan Allah tidak menyukai kebinasaan”. (QS. 2 : 204). 
Al-Qur’an telah menjelaskan, bahwa ada sebagian orang yang memangku kedudukan dan pangkat dengan menampakkan keikhlasannya kepada masyarakat sebagai sarana untuk meraih tujuannya. Perkataannya semanis madu, program yang diajukannya cukup matang, dan berpartisipasi membela keutamaan dan kebenaran sehingga masyarakat terbujuk olehnya. Lebih-lebih, sumpah yang mereka ucapkan seolah-olah cukup meyakinkan kebenarannya. Tetapi pada kenyataannya, ia adalah orang yang paling memusuhi masyarakat. Ia berbuat karena ada tujuan-tujuan tertentu, dan hatinya penuh dengan tipu muslihat secara munafik. 
Apabila orang-orang yang berpribadi demikian menduduki kekuasaan, maka sepak terjangnya hanya akan menimbulkan kerusakan. Mereka ini akan menggunakan segala cara untuk mencapai tujuan tertentu, walau akan menimbulkan merajalelanya kerusakan. Rakyat akan berperang, saling bunuh-membunuh demi membela ambisi pemimpin-pemimpin yang berpribadi demikian. Ribuan jiwa melayang; ladang banyak yang rusak dan sarana-sarana umum hancur berantakan akibat peperangan tersebut. 
Kemudian Al-Qur’an melanjutkan ceritanya : 
“Dan apabila dikatakan kepadanya : ‘Bertakwalah kepada Allah’, bangkitlahkesombongannya yang menyebabkannya berbuat dosa. Maka cukuplah (balasannya) neraka jahannam. Dan sungguh neraka jahannam itu tempat tinggal yang seburuk-buruknya”. (QS. 2 : 206). 
Apabila pemimpin berpribadi demikian diperintah untuk berbuat kebaikan atau dicegah jangan sampai berbuat munkar, ia akan marah dan bangkitlahkesombongannya. Bahkan semakin berani mengadakan kerusakan. Allah tidak lagi ditakutinya, ia menganggap dirinya paling benar tak boleh seorang pun menentangnya. Padahal, tempat kembalinya sudah disediakan oleh Allah ialah neraka Jahannam dan tempat yang paling buruk. 
Islam melarang pemeluknya menimbulkan kerusakan, dan mengingatkan mereka bahwa berbuat kebaikan itu, pahalanya amat besar dan kelak akan berada di dekat di sisi Allah. 
Allah telah berfirman : “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdo’alah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik”. (QS 7 : 56). 
Allah juga menjelaskan bahwa apabila orang-orang tak pernah berbuat kerusakan dan selalu berbuat baik, masyarakat akan menjadi baik pula. Orang-orang yang berkelakuhan demikian adalah yang patut memerintah di bumi Allah ini, sesudah ia menghabisi segala bentuk kerusakan. 
Allah berfirman : “Sesungguhnya yang mewarisi bumi adalah hamba-hamba-Ku yang saleh”. (QS. 21 : 105). 
 Islam bersikap keras terhadap orang-orang yang kegemarannya hanya menimbulkan kerusakan. Oleh karenanya, Islam telah menetapkan undang-undang yang keras terhadap mereka. Pembahasan masalah ini akan kami bicarakan pada bab berikutnya, khusus masalah kejahatan. 
 
http://islamiwiki.blogspot.com/2012/03/sifat-tercela-membuat-kerusakan-di-bumi.html

0 komentar:

Posting Komentar